FOTO KEBERSAMAAN FIKOM
JURNAL VISI KOMUNIKASI
Kuliah Lapangan Mata Kuliah Teknis Penulisan Public Relations
105 Mahasiswa Program Studi Public Relations yang mengambil mata kuliah Teknik Penulisan Public Relations melakukan kunjungan Lapangan ke Musium Sejarah, dan Musium Wayang. Kamis, 29 Desember 2011. Kunjungan lapangan dimulai pukul didampingi langsung oleh Irmulan Sati SH M.Si. Yuni Tresnawati S.Sos dan Novi Erlita S.Sos MA selaku dosen Mata kuliah Penulisan Public Relations.
Para mahasiswa mempelajari Musium Sejarah Jakarta yang terletak di Taman Fatahilla 1 Jakarta Barat merupakan sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah cukup panjang. Bangunan Museum Sejarah Jakarta sesuai dengan prasastinya diresmikan tahun 1710 pada masa Pemerintahan Gubenur Jenderal Abraham Van Riebeck. Museum Sejarah Jakarta berawal dari Museum Oud Batavia (Batavia Lama) beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta (kini Museum Wayang) diresmikan tahun 1936. Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia dan selanjutnya tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan diresmikan menajdi Museum Sejarah Jakarta tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubenur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin. Sampai Perbendaharaan koleksi museum Sejarah Jakarta mencapai jumlah lebih dari 23.000 buah yang berasal dari warisan Museum Djakarta Lama, hasil pengandaan Pemerintah DKI Jakarta, hasil ekskavasi (penggalian Arkeologi), sumbangan perorangan maupun institusi. Koleksi Museum Sejarah Jakarta terdiri dari beragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, Kristal, gerabah, keramik, kain, kulit, kertas, dan tulang. Koleksi unggulan Museum Sejarah Jakarta antara lain Meriam Si Jagur, Pemisah ruang bergaya Baroque dari abad 18, pedang eksekusi, lukisan Gubenur Jenderal VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti dab berbagai macam senjata.
Setelah selesai kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta Mahasiswa beranjak ke Museum Wayang yang bertempat tidak jauh dari lokasi Museum Sejarah Jakarta. Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk (”Gereja Lama Belanda”) dan dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.
Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Republik Rakyat Cina dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Para mahasiswa juga memwawancarai berbagai narasumber mulai dari penjaga museum, para pengunjung, dan para pedagang sekitar Museum tersebut.
PUSKAS FIKOM UMB”"
Puskas merupakan suatu badan otonom yang berada di bawah naungan FIKOM di pimpin oleh Dr.Farid Hamid M.Si. Tujuan dididirikannya PUSKAS adalah untuk pengembangan komunikasi dalam ilmu komunikasi yang meliputi Bidang Studi Public Relations, Broadcasting, Marketing Communication seta Art and Communications.



